Pada kesempatan kali ini saya akan mengulas mengenai keindahan tempat wisata di Sulawesi Selatan tepatnya di Tana Toraja. Destinasi ini memang sangat menarik untuk dikunjungi, budayanya yang masih kental membuat magnet tersendiri bagi para wisatawan baik itu yang berasal dari dalam maupun luar negeri. memang bagi Anda yang baru mengunjungi Tana Toraja kesan mistis sangat terasa, tetapi dibalik itu semua pemandangan alam yang ada di Tana Toraja akan membuat Anda terhipnotis dan ingin berlama - lama menikmatinya.
berikut beberapa objek wisata dan ritual adat yang sempat saya saksikan :
- Lolai Toraja Utara (Negeri Di Atas Awan)
Gugusan awan putih yang dihiasi pancaran sinar matahari pagi dari balik awan, yang terlihat lebih rendah dari posisi kita berdiri di puncak. Demikian pemandangan cantik yang bisa didapati di Puncak Lolai, yang berlokasi di Lembang Benteng Mamullu, Kecamatan Kapalapitu, Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan.Hebatnya lagi, pemandangan indah ini bisa dicapai tanpa perlu mendaki gunung. Lokasi ini bisa dicapai dengan kendaraan roda dua maupun roda empat.
Selain terkenal dengan wisata alam dan budayanya yang sungguh mempesona, Tana Toraja juga dikenal dengan aroma kopinya yang memikat selera. Akan terasa belum lengkap jika berkunjung ke kota Tondok Lepongan Bulan ini tanpa mencicipi atau membeli kopi Arabika asli Toraja. Lantaran aroma dan cita rasanya yang sedap, memang sangat pantas bila kopi jenis arabika ini dijuluki dengan istilah "Queen of Coffee".
3. Baby Grave
Keberagaman suku, budaya, dan adat-istiadat merupakan bagian dari kekayaan bumi Nusantara. Di Tana Toraja, Sulawesi Selatan memiliki keunikan tersendiri dalam upacara pemakaman jenazah. Jenazah orang dewasa biasanya dimakamkan di goa, batu, atau tebing dengan dibuat lubang untuk menempatkan peti jenazah, tetapi hal berbeda berada di Desa Kambira.
Disini terdapat makam anak bayi yang meninggal kurang dari 6 bulan semasa hidupnya, dan di anggap masih suci. Karna keunikannya, pemakaman bayi ini menjadi objek wisata umum tana toraja dan di namakan Baby Grave Kambira. Pemakaman bayi pada sebatang pohon ini dalam bahasa Toraja disebut Passilliran dan hanya dilakukan oleh masyarakat Toraja yang menganut kepercayaan kepada leluhur.
4. Ritual Rambu Solo
Rambu Solo dalah upacara adat kematian masyarakat Toraja yang bertujuan untuk menghormati dan menghantarkan arwah orang yang meninggal dunia menuju alam roh,yaitu kembali kepada keabadian bersama para leluhur mereka di sebuah tempat peristirahatan. Upacara ini sering juga disebut upacara penyempurnaan kematian karena orang yang meninggal baru dianggap benar-benar meninggal setelah seluruh prosesi upacara ini digenapi. Jika belum, maka orang yang meninggal tersebut hanya dianggap sebagai orang sakit atau lemah, sehingga ia tetap diperlakukan seperti halnya orang hidup, yaitu dibaringkan di tempat tidur dan diberihidangan makanan dan minuman bahkan selalu diajak berbicara.
Puncak dari upacara Rambu solo ini dilaksanakan disebuah lapangan khusus. Dalam upacara ini terdapat beberapa rangkaian ritual,seperti proses pembungkusan jenazah, pembubuhan ornament dari benang emas dan perak pada peti jenazah, penurunan jenazah ke lumbung untuk disemayamkan, dan proses pengusungan jenazah ke tempat peristirahatan terakhir.
Selain itu, dalam upacara adat ini terdapat berbagai atraksi budaya yang dipertontonkan, diantaranya adu kerbau,kerbau-kerbau yang akan dikorbankan di adu terlebih dahulu sebelum disembelih,dan adu kaki. Ada juga pementasan beberapa musik dan beberapa tarian Toraja.